JAKARTA, Bicaranusantara.com
Persatuan Wartawan Nasrani (PEWARNA) Indonesia menggelar aksi sosial di kawasan Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (18/3/2026) pukul 16.00 WIB. Kegiatan yang berlangsung di depan kawasan Monas ini tidak hanya menjadi wujud kepedulian sosial, tetapi juga seruan moral tentang pentingnya kesetaraan dan toleransi dalam kehidupan berbangsa berdasarkan nilai-nilai Pancasila.
Aksi yang diikuti jajaran pengurus dan anggota PEWARNA DKI Jakarta ini berlangsung sederhana, namun sarat makna. Di tengah situasi bangsa yang dinilai masih menghadapi berbagai tantangan sosial, kegiatan berbagi tersebut diharapkan menjadi “warna” yang menghadirkan harapan.
Ketua Panitia yang juga Sekretaris Daerah PEWARNA DKI Jakarta, Suwidodo, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan soal besar kecilnya bantuan, melainkan ketulusan dalam memberi.
“Kami menetapkan target sesuai kemampuan. Kalau 30, kami upayakan 30; kalau 20, kami jalankan 20. Seberapapun yang bisa dibagikan, itulah yang kami wujudkan. Bahkan kehadiran, tenaga, dan waktu kita hari ini adalah bentuk pemberian diri,” ujarnya.
Menurut dia, di tengah berbagai program sosial pemerintah yang sudah berjalan, masih ada kelompok masyarakat yang belum sepenuhnya terjangkau. Karena itu, masyarakat sipil, termasuk insan pers, diharapkan turut mengambil bagian.
“Kita tidak menunggu. Kita bergerak dengan apa yang kita punya. Ini adalah bentuk kepedulian nyata,” katanya.
Ketua PEWARNA PD DKI Jakarta, Johan Sopaheluwakan, menambahkan bahwa organisasi yang dipimpinnya ingin hadir sebagai bagian dari solusi sosial, sekaligus menjaga semangat persatuan di tengah keberagaman.
“PEWARNA harus menjadi berkat, tidak hanya bagi internal, tetapi juga bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai kesetaraan dan toleransi harus terus kita jaga sebagai fondasi negara Pancasila,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum PEWARNA Indonesia, Yusuf Mujiono, mengapresiasi inisiatif yang dilakukan jajaran PEWARNA DKI Jakarta. Ia menilai kegiatan sosial semacam ini merupakan refleksi nyata dari semangat gotong royong dan solidaritas kebangsaan.
“Ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Ketika kita berbicara tentang Pancasila, maka yang utama adalah praktiknya dalam kehidupan sehari-hari—bagaimana kita saling peduli, saling menghormati, dan menjunjung tinggi kesetaraan,” kata Yusuf.
Ia juga menekankan bahwa toleransi tidak cukup hanya menjadi wacana, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan konkret, termasuk melalui kegiatan sosial lintas kelompok.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa di tengah dinamika sosial dan perbedaan yang ada, nilai-nilai Pancasila tetap menjadi perekat bangsa. Melalui aksi sederhana namun bermakna, PEWARNA berharap dapat menginspirasi berbagai elemen masyarakat untuk terus menumbuhkan semangat kebersamaan, keadilan, dan kepedulian sosial.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pembagian bantuan kepada masyarakat, yang dipandu oleh ketua panitia, sebagai wujud nyata komitmen untuk menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (Red)
